Back to blog
Feb 18, 2026
3 min read

Bekerja untuk Diri Sendiri

Sebuah moto baru dalam berkarir

Di tengah-tengah menyelami dunia maya, saya tidak sengaja menemukan sebuah artikel di laman pertama hasil pencarian Google saya. Artikel ini sebenarnya tidak menjawab kata kunci yang saya ketik kala itu, tetapi karena tulisannya terlihat sederhana, saya putuskan untuk membaca pesan dari si penulis. Tidak saya sangka, tulisan ini sangat mengena pada diri saya, terutama di tengah kegelisahan arah berkarir saya saat itu.

Artikel tersebut berjudul The selfish reason to do your best work, yang ditulis oleh Eric Ma, salah satu developer Python yang jujur saya tak mengenalnya sebelum membaca artikel ini.

Pesan beliau dimulai dengan ajakan untuk mau bertanya:

Why we work?

Ya, pertanyaan simpel dengan jawaban yang sangat mendalam. Bahkan saya yakin beberapa orang tidak bisa menjawab secara jujur saat pertama kali membaca pertanyaan itu. Kini, di era modern, kita bekerja seolah hanya memenuhi tuntutan sosial, lifestyle, atau bahkan sekadar survival mechanism belaka. Tidak ada yang pernah benar-benar mengajak kita mencari alasan utama dalam bekerja. Kita hanya disuruh mengambil pendidikan setinggi-tingginya, lalu bekerja untuk mencari uang. That’s that.

Lalu sampai sejauh mana kita harus bekerja?

Jikalau kita bekerja terlalu sepenuh hati, kerap kali umpan balik yang kita terima (kompensasi terutama) tidak sebanding dengan usaha tersebut. Namun di sisi lain, jika kita tidak bekerja sepenuh hati, kita cemas akan perkembangan karir yang stagnan atau bahkan tergantikan dengan orang-orang baru yang lebih doyan hustling (terlebih lagi orang yang sangat oportunis, hampir segala cara dihalalkan demi menaiki tangga karir).

Sebagian orang terus bekerja sepenuh tenaga karena akhirnya menemukan passion atau lingkungan yang sangat didambakan dari dulu. Tapi sayangnya, sebagian lainnya—atau mungkin bisa saya katakan sebagian besar—tidak menemukan hal tersebut.

Solusinya sederhana: cobalah menggeser paradigma bahwa kita bekerja sekuat tenaga untuk kepentingan perusahaan menjadi untuk kepentingan kita pribadi.

Terdengar egois?

Saya rasa justru ini adalah titik tengahnya. Di satu sisi, perusahaan mendapatkan keuntungan dengan kinerja maksimal kita yang terus memberikan kontribusi positif. Di sisi lain, kita juga sebenarnya sedang mengembangkan diri—membuat karya atau belajar hal-hal baru guna menambah pengalaman dan portofolio profesional kita. Win-win solution, bukan?

Jadi, mulai sekarang, saya akan coba untuk do my best work. Karena walaupun saat ini lingkungan atau perusahaan saya tidak begitu memperhatikan kerja keras saya, tapi saya yakin jika kita tetap konsisten menjaga kualitas kerja kita, people outside will notice.

Appreciate your job. Do your best work. Keep learning new things. Be consistent, and play the long game!

Your reputation precedes you. It is the one thing you accumulate over time that serves as a form of wealth that can never be taken away from you. — Eric J. Ma